Tentang UGM
FEB UGM
Perpustakaan UGM
Webmail @UGM
Bahasa Indonesia
English
Fakultas Ekonomika dan Bisnis

Magister Sains dan Doktor

Fakultas Ekonomika dan Bisnis

UNIVERSITAS GADJAH MADA

Home Berita
Berita
Program MD Adakan Kuliah Umum Daya Saing Perberasan di Indonesia PDF Print E-mail
Thursday, 10 August 2017 05:06

Dr. Denni Puspa Purbasari menyampaikan paparannya terkait masalah perberasan di Indonesia

Yogyakarta, Program MD mengadakan kuliah umum dengan tema “Peningkatan Daya Saing Sektor Perberasan di Indonesia”, Rabu (9/08/2017). Acara tersebut bertempat di ruang Auditorium BRI lantai 3 Gedung MD FEB UGM. Pembicara merupakan seorang Deputi III Kantor Staf Kepresidenan RI, yang juga berstatus sebagai pengajar di FEB UGM, Dr. Denni Puspa Purbasari. Moderator dipercayakan kepada Dr. Eny Sulistyaningrum, yang merupakan salah satu pengajar di FEB UGM.

Dr. Denni mengatakan bahwa ketahanan pangan merupakan salah satu program yang menjadi prioritas pada pemerintahan Jokowi-JK. Sayangnya negara kita masih melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan beras masyarakat. Ketidakmampuan Indonesia dalam melakukan swasembada beras disebabkan karena masih rendahnya produktivitas petani. Upaya untuk meningkatkan produktivitas merupakan hal yang sangat penting mengingat sifat lahan yang cenderung tetap (fix). Dengan produktivitas yang tinggi, diharapkan petani dapat menghasilkan beras yang lebih banyak dengan luas lahan yang sama.

Harga beras di Indonesia cenderung lebih mahal dibandingkan dengan Vietnam dan Thailand. Selain biaya lahan, biaya tenaga kerja menjadi komponen utama yang menyebabkan tingginya biaya produksi beras. Mahalnya biaya tenaga kerja bukan disebabkan karena tingginya upah yang diberikan oleh petani, namun ditentukan oleh rendahnya produktivitas petani, yang mengakibatkan banyaknya buruh lepas yang harus dipekerjakan. Rendahnya produktivitas petani salah satunya disebabkan oleh rendahnya pelatihan produksi pertanian.

Pembicara mengatakan bahwa terdapat beberapa agenda yang nantinya akan beliau usulkan dalam sistem pemerintahan untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Selain pelebaran luas lahan, adanya mekanisasi dibidang pertanian merupakan salah satu agenda penting yang akan diusulkan kepada pemerintah. Hal ini disebabkan karena mekanisasi dianggap menjadi solusi yang tepat untuk meningkatkan produktivitas. Penggunaan alat pemanen dianggap lebih efisien dibandingkan dengan buruh lepas. Sehingga pemerintah perlu memberikan insentif yang tepat kepada petani di Indonesia untuk mau menggunakan alat pemanen kombinasi (combine harvester). Selain itu, pemerintah juga harus memberikan insentif kepada petani untuk mau melakukan joint farming dalam rangka mendukung pemakaian pemanen kombinasi.

Dalam acara tersebut, pembicara juga mengingatkan bahwa, pengimplementasian agenda pemerintah untuk meningkatkan produktivitas pertanian bukanlah hal yang mudah. Indonesia masih memerlukan waktu untuk bisa swasembada beras. Untuk itu, impor memang masih menjadi solusi yang dianggap paling tepat untuk mencukupi kebutuhan masyarakat terhadap beras.

Di akhir acara, moderator berharap agar kuliah umum tersebut bisa bermanfaat bagi para peserta. Diharapkan juga setelah mengikuti kuliah umum, peserta dapat terbuka wawasannya dan dapat lebih bijak dalam menyikapi berbagai kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah terkait sektor perberasan. (DS)

 
Alyta Shabrina Zusryn dan Siti Nuryani Kasanah Berhasil Menjuarai Salah Satu Kompetisi yang diadakan oleh OJK tahun 2017 PDF Print E-mail
Thursday, 03 August 2017 20:42

Alyta Shabrina Zusryn dan Siti Nuryani Kasanah dinobatkan sebagai pemenang call for papers industri keuangan nonbank 2017 yang diadakan oleh OJK

YOGYAKARTA, Dua mahasiswi MD FEB UGM, Alyta Shabrina Zusryn dan Siti Nuryani Kasanah berhasil menjadi juara 1 lomba call for papers industri keuangan nonbank 2017 yang diadakan oleh OJK. Lomba yang diadakan dari tanggal 14 Maret 2017 sampai dengan 13 Juni 2017 tersebut mengusung tema “Memperkuat IKNB melalui Peningkatan tata kelola dan manajemen risiko di tengah peluang ekspansi usaha”. Setelah resmi dinyatakan sebagai 6 nominator yang berhak untuk maju ke babak final, kedua mahasiswi dari program studi magister ilmu manajemen tersebut harus mempresentasikan ide dari karya tulis yang telah mereka kirimkan pada tanggal 12 Juni 2013. Presentasi dari karya tulis mereka yang berjudul “Strategi Mitigasi Risiko Kredit Mikro UMKM pada Perusahaan Fintech Berbasis P2P Lending” pada akhirnya mampu mengantarkan mereka menjadi pemenang.

Dalam karya tulisnya, Alyta dan Siti menyatakan bahwa P2P lending merupakan salah satu bentuk solusi pembiayaan bagi UMKM yang berbasiskan teknologi. P2P lending bisa menjadi solusi bagi UMKM yang tidak memiliki akses yang memadai terhadap layanan perbankan dan tidak memiliki agunan (collateral debt). Dikarenakan jenis pembayaran berbasis fintech tersebut memiliki risiko yang cukup tinggi akibat adanya kemungkinan adverse selection dan ketiadaan jaminan, Alyta dan Siti memberikan tiga jenis strategi untuk memitigasi risiko tersebut. Strategi yang pertama adalah pemberian pinjaman dalam bentuk lending group. Lending group merupakan pinjaman yang diberikan kepada sekelompok debitur dengan menggunakan sistem tanggung renteng. Strategi kedua adalah memberlakukan setoran simpanan rutin (SIPAR) pada lending group sebagai lindung nilai risiko kredit. Ketiga, strategi dalam bentuk perbaikan sistem P2P lending yang telah ada, seperti menyarankan adanya batas maksimal pinjaman, penetapan standar credit scoring yang baku, perbaikan prosedur pendaftaran P2P lending di OJK, dan pemberlakuan standar prosedur know your customer digital.

Kedua pemenang berharap agar karya tulis mereka dapat berdampak positif bagi pelaku UMKM, perusahaan P2P lending, dan Otoritas Jasa Keuangan. Penulis tentunya juga berharap semakin banyak mahasiswa MD FEB UGM yang mengikuti jejaknya. Mereka yakin bahwa banyak mahasiswa MD FEB UGM yang berpotensi namun belum memiliki kemauan yang kuat untuk menuangkan idenya kedalam sebuah tulisan. (DS)

 
Ni Made Sukartini Berhasil Meraih Gelar Doktor dengan Topik Disertasi Penyediaan Barang Publik PDF Print E-mail
Tuesday, 01 August 2017 15:02

Ni Made Sukartini bersama tim penguji ujian terbuka.

YOGYAKARTA, Ni Made Sukartini resmi meraih gelar doktor di Auditoriun BRI Gedung MD FEB UGM, Senin (31/07/17). Dipromotori oleh Prof. Samsubar Saleh serta di ko-promotori oleh Dr. Artidiatun Adji dan Dr. Ertambang Nahartyo, Dr. Made berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Dua Esai Penyediaan Barang Publik di Indonesia” di hadapan penguji. Ni Made Sukartini merupakan doktor ke-3659 yang diluluskan oleh UGM dan doktor ke-234 yang diluluskan oleh FEB UGM. Turut hadir Dr. Amirullah Setya Hardi, selaku ketua tim penguji yang saat ini juga menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, Kerjasama, dan Alumni FEB UGM.

Adanya berbagai informasi mengenai ketimpangan distribusi barang publik antara daerah pedesaan dengan perkotaan di sejumlah negara berkembang memotivasi Dr. Made untuk menulis dua esai sekaligus terkait penyediaan barang publik di wilayah pedesaan. Terdapat tiga fokus pembahasan dalam esai pertama. Fokus pertama, membahas ketersediaan barang publik (listrik, air bersih, pengangkut sampah, dan MCK umum) di wilayah pedesaan. Dua, membahas kaitan antara ketersediaan barang publik dengan perkembangan aktivitas ekonomi di luar sektor pertanian. Tiga, membahas kaitan antara barang publik, jumlah industri kerajinan dan kondisi keberagaman ekonomi, dan identitas sosial penduduk desa dengan pelaksanaan kegiatan gotong royong masyarakat di desa. Esai kedua berfokus untuk mengaji partisipasi individu dan anggota masyarakat dalam membantu penyediaan barang publik.

Hasil penelitian dalam esai pertama menunjukkan bahwa masih terdapat ketimpangan penyediaan barang publik antara pedesaan dan perkotaan. Faktor kesulitan geografis dan keberagaman dalam bentuk ada tidaknya variasi atau alternatif sumber penghasilan bagi penduduk desa serta keberagaman dalam identitas sosial merupakan faktor-faktor yang menjadi penyebab ketimpangan tersebut. Barang publik dalam bentuk aliran listrik dari PLN ditemukan berkaitan secara positif dengan perkembangan jumlah usaha bisnis rumahan di desa. Berkaitan dengan aktivitas gotong-royong, hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas gotong-royong mulai berkurang pada desa yang mempunyai akses yang lebih baik terhadap barang publik berupa air bersih dan angkutan sampah. Hal serupa juga ditemukan di pedesaan yang memiliki keragaman suku dan agama. Namun, aktivitas masyarakat untuk bergotong–royong ditemukan masih berlangsung baik di wilayah desa yang telah mempunyai perkembangan usaha kerajinan atau bisnis rumah tangga.

Esai kedua yang dilakukan dengan studi laboratorium eksperimen menunjukkan bahwa aktivitas gotong-royong di masyarakat dalam bentuk kontribusi siskamling dan kerja bakti untuk melengkapi akses keamanan di malam hari dan kebersihan lingkungan relatif tinggi. Studi eksperimen juga menemukan bahwa kontribusi individu atau anggota keluarga di masyarakat dalam bergotong-royong dilakukan secara sukarela.

Dalam disertasinya, Dr. made memberikan beberapa saran kepada pemerintah dalam rangka mengatasi ketimpangan penyediaan barang publik. Jika memang faktor geografis menjadi penyebab sulitnya pemerataan distribusi barang publik, beliau menyarakan agar pemerintah dapat mengupayakan pemanfaatan sumber daya alternatif yang tersedia di desa. Pemerintah dapat menginisiasi terciptanya sumber energi alternatif, seperti pemanfaatan tenaga surya, tenaga air, atau bahkan tenaga angin. Mengingat ketersediaan sumber mata air yang relatif banyak di desa, pemerintah juga dapat memberikan pendampingan kepada masyarakat desa untuk bisa mengolah sumber airnya sendiri sehingga layak untuk dikonsumsi. Adanya penyuluhan pada rumah tangga untuk dapat mengolah limbah rumah tangganya sendiri juga penting untuk tetap menjaga kebersihan dan kenyamanan desa. Upaya pemerintah untuk tetap menjaga gotong-royong masyarakat desa juga harus diperkuat. Karena gotong-royong merupakan modal sosial untuk menunjang proses pembangunan.

Pada akhir acara, Prof. Samsubar Saleh selaku promotor mengucap rasa syukur atas terlaksananya promosi doktor dengan baik. Beliau menyampaikan bahwa kegigihan Dr. Made dalam meraih gelar pendidikan tertinggi sangat patut diapresisasi. Selain berpesan kepada promovenda untuk berterimakasih kepada keluarga dan juga ko-promotor, beliau juga menyampaikan bahwa “Diraihnya gelar doktor adalah prestasi awal. Semoga Dr. Made tetap bisa memegang teguh tri dharma pendidikan dan tetap melakukan penelitian maupun pengabdian masyarakat. Tidak hanya mobile di dalam negeri namun juga di luar negeri. Semoga bisa terus mempertahankan reputasi program Magister dan Doktor Universitas Gadjah Mada. Semoga prestasi anda jauh lebih baik di masa yang akan datang.” (DS)

 
Lina Anatan Berhasil Meraih Gelar Doktor dengan Topik Disertasi Transfer Pengetahuan antar Organisasi PDF Print E-mail
Tuesday, 25 July 2017 20:19

Dr. Kusdhianto Setiawan selaku ketua tim penguji mengukuhkan Lina Anatan sebagai doktor

YOGYAKARTA, Senin (24/07/2017), Lina Anatan resmi meraih gelar doktor di Auditoriun BRI Gedung MD FEB UGM. Dipromotori oleh Dr. Tarsisius Hani Handoko, serta di ko-promotori oleh Dr. Amin Wibowo dan Dr. Rangga Almahendra, Dr. Lina Anatan berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Transfer Pengetahuan dalam Aliansi Universitas dan Industri di Indonesia” di hadapan penguji. Dr. Lina Anatan merupakan doktor ke-3641 yang diluluskan oleh UGM dan doktor ke-233 yang diluluskan oleh FEB UGM. Acara sidang terbuka ini turut dihadiri Dr. Kusdhianto Setiawan selaku ketua tim penguji yang saat ini juga menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia FEB UGM.

Kebaruan pada penelitian Dr. Lina Anatan adalah penggunaan teori institusional untuk menelaah transfer pengetahuan dalam aliansi universitas dan industri. Sebelumnya, penelitian tentang transfer pengetahuan dalam aliansi universitas dan industri didominasi oleh perspektif internal dengan menggunakan teori transaction cost economics (TCE), resource-based view (RBV) dan knowledge-based view (KBV). Penggunaan teori institusional beserta teori KBV dan TCE sebagai teori pelengkap, menjadikan penelitian ini mampu menjelaskan pengaruh transfer pengetahuan terhadap institusionalisasi aktivitas transfer pengetahuan baik dari perspektif internal maupun eksternal. Penelitian ini menggunakan data diadik. Sehingga berbeda dari penelitian sebelumnya yang hanya berfokus pada transfer pengetahuan dalam universitas saja atau industri saja, penelitian ini berfokus pada keduanya.

Dalam penelitiannya, Dr. Lina Anatan menguji pengaruh positif variabel-variabel anteseden (tekanan regulatif, tekanan normatif, dan tekanan kognitif) terhadap transfer pengetahuan dalam aliansi universitas dan industri, menguji pengaruh positif transfer pengetahuan terhadap institusionalisasi aktivitas transfer pengetahuan, dan menguji peran pemoderasian ketidakpastian (ketidakpastian teknik dan ketidakpastian organisasional) dalam menjelaskan pengaruh transfer pengetahuan terhadap institusionalisasi aktivitas transfer pengetahuan.

Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif yang signifikan secara simultan dari tekanan institusional (tekanan regulatif, tekanan normatif, dan tekanan kognitif) terhadap transfer pengetahuan dalam aliansi universitas dan industri. Secara parsial, tekanan normatif dan kognitif berpengaruh positif terhadap transfer pengetahuan dalam aliansi universitas dan industri, sedangkan tekanan regulatif tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap transfer pengetahuan dalam aliansi universitas dan industri. Penelitian ini juga menemukan bahwa transfer pengetahuan berpengaruh positif terhadap institusionalisasi aktivitas transfer pengetahuan. Hasil pengujian validitas tentang variabel ketidakpastian teknikal dan ketidakpastian organisasional menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut bersifat unidimensional. Hal ini mengakibatkan peran pemoderasian ketidakpastian teknikal dan ketidakpastian organisasional dalam memperkuat atau memperlemah pengaruh transfer pengetahuan terhadap institusionalisasi aktivitas transfer pengetahuan tidak dapat diuji.

Tidak signifikannya tekanan regulatif terhadap transfer pengetahuan dalam aliansi universitas dan industri dapat menjadi perhatian bagi regulator. Lina Anatan selaku promovenda mengatakan bahwa regulasi terkait transfer pengetahuan dalam aliansi universitas dan industri di Indonesia masih lemah dalam pelaksanaannya. Sehingga diperlukan pemantauan dari regulator agar pelaksanaan regulasi menjadi lebih efektif.

Pada akhir acara, Dr. Tarsisius Hani Handoko selaku promotor mengucapkan selamat kepada Dr. Lina Anatan dan keluarga atas pencapaian nya dalam meraih gelar doktor. Ucapan selamat juga ditujukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kristen Maranatha Bandung atas perolehan gelar doktor dari salah satu dosennya. Terimakasih tidak lupa beliau ucapkan kepada tim promotor, tim penilai, dan penguji. Pesan yang beliau sampaikan kepada promovenda adalah, “Terus menulis, membaca, mengikuti konferensi dan melakukan publikasi. Abdikan ilmu Anda untuk terus melayani mahasiswa dan pemangku kepentingan yang lain. Selamat kembali ke Universitas Maranatha.”(DS)

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 9 of 62